Gambarnya lazim dibaca sebagai pertikaian yang tidak sanggup diselesaikan satu orang. Ia tidak meramalkan apa-apa, dan sebagian besarnya datang langsung dari pemberitaan.
Sebaiknya kita mulai dari apa yang tidak dikerjakan mimpi ini. Memimpikan perang tidak meramalkan perang, dan tradisi tafsir yang jadi dasar halaman-halaman ini tidak pernah mengaku sanggup melihat kejadian sebelum terjadi. Yang sejak dulu diwakili gambarnya adalah pertikaian dengan ukuran yang tidak sanggup dibereskan satu orang, dan pembacaannya sama saja apakah pertikaian itu ada di dalam keluarga, di tempat kerja, atau sepenuhnya di dalam kepala si pemimpi.
Sebagian besar bahan mimpi ini datang langsung dari hari yang baru saja kamu lewati. Berita, film, permainan, dan perdebatan panjang soal konflik di negeri jauh semuanya meninggalkan endapan, lalu endapan itu naik lagi pada malam hari, termasuk pada orang yang sama sekali tidak punya urusan di sana. Sesudah masa pemberitaan yang berat, jumlah mimpi semacam ini memang bertambah. Penjelasan itu tidak megah, dan sangat sering justru penjelasan yang benar.
Ini harus disampaikan hati-hati, karena bagi sebagian pembaca urusannya sama sekali tidak jauh. Orang yang pernah hidup di tengah pertempuran, atau pernah bertugas, mungkin sedang memimpikan ingatan, bukan kiasan. Mimpi jenis itu bukan bahan kamus, dan kalau ia datang berulang atau meninggalkan tekanan yang nyata, bicara dengan orang yang ahli jauh lebih berguna daripada daftar lambang mana pun.
Pembacaan lama jauh lebih memperhatikan peranmu daripada pertempurannya. Ikut bertempur dipahami sebagai keterlibatan dalam perkara yang memang sudah berjalan. Berlindung atau bersembunyi dipahami sebagai keinginan untuk keluar dari perkara itu. Menonton dari jarak aman biasa dibaca sebagai merasa terseret ke dalam sesuatu tanpa punya cara untuk berbuat apa-apa, dan itu gambaran yang cukup tepat soal mengikuti kabar buruk dari kejauhan. Berada di pihak yang kalah umumnya diartikan kelelahan biasa, sama sekali bukan pernyataan tentang bagaimana keadaan nyata akan berakhir.
Penafsir zaman dulu justru paling tertarik pada akhir perang di dalam mimpi. Gencatan senjata, perjanjian yang ditandatangani, atau sekadar ladang yang sunyi sesudahnya pernah dibaca sebagai perdamaian, kadang dengan orang lain, kadang antara dua sisi diri si pemimpi. Cocok atau tidaknya semua itu bergantung pada apa yang kamu bawa ke tempat tidur, dan cuma kamu yang berada di posisi untuk tahu.


