Sedikit hewan mimpi yang membelah tradisi setajam kucing, dipuji sebagai kehadiran pembawa untung di rumah pada satu tempat dan dibaca sebagai kelicikan di tempat lain.
Hampir tidak ada hewan lain yang membelah buku mimpi setajam kucing. Di satu jalur tradisi ia kehadiran yang membawa untung di sekitar rumah, sosok penenang yang tahu betul membawa diri. Di jalur lain makhluk yang sama mewakili sesuatu yang licik bergerak di pinggir urusanmu, orang atau keadaan yang belum kamu lihat dengan terang.
Kucing hidup berdampingan dengan manusia tanpa pernah benar-benar jadi milik siapa pun. Ia manja menurut jadwalnya sendiri, pergi dan pulang tanpa keterangan, dan berburu tanpa suara. Kebudayaan yang mengagumi kemandirian itu menjadikan hewannya lambang ketenangan dan naluri. Kebudayaan yang mencurigainya mengubah sifat yang persis sama menjadi lambang kawan yang menyimpan sesuatu.
Karena dua versi itu saling menabrak, kamusnya sendiri memutuskan sedikit sekali. Yang biasanya menentukan nadanya adalah tingkah si kucing dan perasaanmu waktu memandanginya. Kucing yang tidur di atas kakimu dan kucing yang menatapmu dari ambang pintu gelap bukan mimpi yang sama dengan bulu berbeda.
Di sinilah kamus harus mengalah. Orang yang besar dengan tiga kucing di sofa membawa kumpulan kaitan yang sama sekali lain dari orang yang pernah dicakar parah waktu kecil, atau yang matanya langsung berair kalau sekamar dengan satu ekor saja. Kucing di mimpimu dirakit dari kenanganmu tentang kucing, bukan dari lambang umum, jadi mulailah dari sana sebelum menjangkau arti warisan mana pun.


